Tiga Bulan Pascabencana, Anak-Anak Aceh Tengah Jalani Trauma Healing melalui Pendampingan Psikologi
Kemdiktisaintek bersama Universitas Teuku Umar (UTU) sukses gelar program trauma healing bagi 90 anak penyintas banjir di Kampung Toweren, Aceh Tengah.
aceh tengah – Anak-anak penyintas bencana di Kabupaten Aceh Tengah kini mulai bangkit dari dampak psikologis berkat program pendampingan intensif. Melalui inisiatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Universitas Teuku Umar (UTU) diterjunkan untuk memberikan layanan trauma healing di wilayah terdampak.
Salah satu fokus utama program ini berada di Kampung Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Di sana, para dosen dan mahasiswa bekerja sama untuk mengembalikan keceriaan anak-anak yang sempat terguncang akibat bencana.
“Di mana kami melaksanakan penyembuhan trauma kepada anak-anak, kemudian membuat permainan dan sejumlah kegiatan. Mereka melaksanakan proses pengabdian sosial yang kemudian diharapkan agar anak-anak ini dapat lebih baik,” kata Dosen Universitas Teuku Umar, Irsadi Aristora, kepada ANTARA, Rabu (18/2/2026).
Program Sekolah Bencana Selama Tiga Bulan
Irsadi menjelaskan bahwa upaya pemulihan ini tidak dilakukan secara instan. Pihak kampus telah menjalankan program "Sekolah Bencana" selama kurang lebih tiga bulan terakhir untuk memastikan proses penyembuhan trauma berjalan efektif bagi anak-anak terdampak.
Senada dengan hal tersebut, Rahmat Hayatun Nupus, Ketua Program Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Berdampak Penanggulangan Bencana UTU, menyampaikan bahwa kondisi psikis anak-anak saat ini sudah menunjukkan kemajuan yang signifikan.
“Memang kebiasaan yang menjadi hobi kami membantu masyarakat dan anak-anak yang terdampak bencana. Selain di sini, sebenarnya kami pernah pergi ke beberapa daerah untuk melakukan pengobatan kepada anak-anak yang telah mengalami dampak bencana,” ujar Hayatun, mahasiswa jurusan Hukum UTU tersebut.
Kembali ke Rumah Setelah Tiga Bulan Mengungsi
Berdasarkan data di lapangan, terdapat total 90 anak dan balita di Kampung Toweren yang menjadi korban terdampak bencana banjir besar Sumatera pada 25-30 November 2025 lalu.
Kabar baiknya, mayoritas anak-anak penyintas ini kini telah meninggalkan posko kebencanaan. Setelah kurang lebih tiga bulan bertahan di tempat pengungsian, mereka kini sudah kembali ke kediaman pribadi masing-masing untuk memulai lembaran baru dengan kondisi mental yang lebih stabil. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



