TIMES ACEH, JAKARTA – Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menegaskan bahwa wilayah otonomi Denmark itu ingin tetap menjadi bagian dari Denmark, bukan bergabung dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan menanggapi tekanan berkelanjutan dari Presiden AS Donald Trump yang berupaya mengambil alih pulau Arktik tersebut.
“Kami sekarang menghadapi krisis geopolitik, dan jika kami harus memilih antara Amerika Serikat dan Denmark saat ini, kami memilih Denmark,” ujar Nielsen dalam konferensi pers di Kopenhagen bersama Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen. Frederiksen menambahkan bahwa tidak mudah untuk melawan tekanan yang ia sebut sama sekali tidak dapat diterima dari sekutu terdekatnya.
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah pemerintahan koalisi Greenland secara resmi menolak ancaman pengambilalihan oleh Trump. “Amerika Serikat sekali lagi menegaskan keinginannya untuk mengambil alih Greenland. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima oleh koalisi pemerintahan di Greenland dalam keadaan apa pun,” bunyi pernyataan resmi pemerintah pulau itu.
Trump bersikeras akan menguasai Greenland, dengan ancaman bahwa wilayah itu akan berada di bawah kendali AS dengan satu atau lain cara. Ancaman ini memicu krisis di NATO dan kecaman dari sekutu Eropa, yang memperingatkan bahwa pengambilalihan Greenland akan berdampak serius pada hubungan AS-Eropa.
Menyikapi hal ini, Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio akan mengadakan pertemuan dengan menteri luar negeri Denmark dan Greenland di Gedung Putih pada Rabu (14/1/2025). Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen dan rekan dari Greenland Vivian Motzfeldt menyatakan bahwa mereka meminta pertemuan tersebut setelah ancaman Trump.
Politikus Greenland di parlemen Denmark, Aaja Chemnitz, menegaskan bahwa mayoritas dari 56.000 penduduk Greenland tidak ingin menjadi warga negara AS. “Greenland tidak dijual, dan Greenland tidak akan pernah dijual,” tegasnya. “Orang-orang tampaknya berpikir mereka bisa membeli jiwa Greenland. Itu adalah identitas, bahasa, budaya kami dan semuanya akan terlihat sangat berbeda jika Anda menjadi warga negara Amerika, dan itu bukan sesuatu yang diinginkan mayoritas di Greenland,” imbuhnya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Pemimpin Greenland Tolak Tawaran Akuisisi Presiden Trump: Greenland Bukan untuk Dijual
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Faizal R Arief |